Kerja Keras, Jabatan Tinggi, Pendidikan Tinggi, Gelar akademik yang keren, Harta Melimpah tidak punya makna dan arti apa apa tanpa diikat dengan Integritas (M. Rusli)
Perubahan tidak terbentuk kalau mindset yang dimiliki tidak berubah. Terjebak dalam fix mindset membuat kita ketinggalan. Kompetitor makin melesat jauh kedepan. Seperti ojek pangkalan yang ditinggal sama ojek online, toko yang sepi pembeli digeser oleh toko online.
Fix mindset berarti terjebak dalam zona nyaman. Lama-lama akan ditinggal oleh perubahan. Karena itu agar tetap survive dan bisa bertahan di era persaingan yang kian ketat mau tidak mau kita harus berubah. Perubahan dilakukan dari mindset dulu.
Orang yang berada di jalur growth mindset berprinsip tidak pernah merasa pintar. Orang yang menganut growth mindset merasa tidak pintar. Terus belajar dan haus akan ilmu. Orang menganut prinsip meski pendidikan formalnya tidak terlalu tinggi namun semangat juang terus belajar dan karakternya yang baik membawanya ke puncak kejayaan.
Sebaliknya fix mindset merasa dirinya pintar. Karena merasa dirinya pintar maka tidak perlu belajar. Menurut kaum fix mindset hanya orang yang bodohlah yang harus belajar setiap hari.
Di sini pola yang penulis pakai untuk menjadi manusia growth mindset adalah pikiran positif di tambah perasaan positif akan membawa kita mudah masuk ke dalam golongan growth mindset. Punya pikiran hebat, visi misi yang bagus, teknologi tinggi, keuangan sehat, sumberdaya manusia yang punya IPK tinggi akan sia sia kalau tidak dibarengi dengan perasaan yang positif.
Salah satu kisah tentang mindset bertumbuh diuraikan secara menarik yaitu di ulas dalam sebuah buku berjudul Who Moved My Cheese? yang ditulis oleh Spenser Johnson.
Who Moved My Cheese? adalah cerita tentang bagaimana empat karakter, dua tikus bernama Sniff dan Scurry, serta dua manusia kecil (kurcaci) bernama Hem dan Haw, mencari keju di sebuah labirin. Keju melambangkan sebuah target atau tujuan. Apa yang diinginkan seseorang dalam hidup, seperti kesuksesan dan kebahagiaan. Suatu hari keju mereka hilang dan mereka harus belajar beradaptasi dengan perubahan. Sniff dan Scurry yang selalu waspada, dengan cepat menemukan keju baru. Hem menolak perubahan, sementara Haw akhirnya belajar untuk menerima dan beradaptasi. Cerita ini mengajarkan pentingnya beradaptasi dengan perubahan, menghadapi ketakutan, dan mencari solusi baru ketika apa yang kita miliki hilang.
Berikut adalah rangkuman singkatnya:
Empat karakter:
Dua tikus (Sniff dan Scurry) dan dua manusia kecil (Hem dan Haw) tinggal di labirin dan mencari keju. Sniff dan Scurry menggunakan beberapa alternatif untuk meraih impian. Kalau cara yang digunakan gagal ia tidak menyerah terus mencoba cara baru, sedangkan Hem dan Haw sang manusia kurcaci sempat puas dan nyaman sehingga berhenti belajar, berhenti mengejar target baru dan puas atau nyaman dengan keju yang diperoleh.
Si kurcaci itu berkata tak ada yang berani mengambil atau mencuri stok keju. Keju sangat banyak. Tak akan habis pikir si kurcaci. Kurcaci memutuskan stop bekerja dan menikmati hidup. Hingga suatu saat tiba-tiba stok keju habis. Si kurcaci berkata Who moved my cheese? Si Kurcaci hanya mengeluh dan menyalahkan lingkungan.
Sedangkan si tikus Sniff dan Scurry setelah menemukan tumpukan keju tetap bekerja keras, menambah skill dan kompetensi hingga terus berjuang dengan target baru dan berhasil menemukan stok keju yang jauh lebih banyak dibandingkan si kurcaci Ham dan Haw. Lama-lama Ham dan Haw sakit, stok makanan mulai habis muncul pemikiran bahwa kalau tak berubah maka perubahan yang akan menggilas. Hem dan Haw berkata kalau tak berubah maka akan mati. Lalu sang kurcaci hanya rebut dan reaktif. Tapi lama-lama mereka sadar, kalau hanya reaktif atau menyalahkan lingkungan tidak akan menyelesaikan masalah. Sang kurcaci pun memutuskan mengikuti cara sang tikus. Sang kurcaci Ham dan haw berpikir harus berubah. Setelah berjuang seperti cara kerja sang tikus, akhirnya menemukan stok keju meskipun stok yang ditemukan tidak banyak, karena peningalan dari sang tikus yang terus bergerak dan penemuan stok yang lebih banyak.
Keju:
Melambangkan apa yang diinginkan dalam hidup, seperti kesuksesan dan kebahagiaan. Keju adalah sebuah visi. Melakukan sebuah kegiatan yang didasari emosi yang kuat untuk diraih. Visi adalah target. Tanpa tujuan maka hidup ini tak menantang dan bergairah. Keju ibarat sebuah GPS atau peta. Dengan adanya GPS atau peta maka arah hidup akan fokus dan tidak nyasar. Dengan adanya keju hidup lebih bermakna. Memberikan arah yang tepat sehingga bersemangat. Sementara tak memiliki keju berarti tidak punya tujuan hidup. Yang membuat hidup jadi tak bersemangat dan bermakna.
Perubahan:
Keju hilang dan mereka harus menghadapi kenyataan bahwa segala sesuatunya berubah. Segalanya berubah. Yang tidak berubah hanya perubahan itu sendiri dan Tuhan. Semuanya mengalami perubahan. Tak mengambil kesempatan untuk berubah sama saja hidup dalam zona nyaman. Mengambil keputusan zona nyaman artinya akan tersingkir.
Adaptasi:
Sniff dan Scurry cepat beradaptasi, sementara Hem menolak perubahan dan Haw akhirnya belajar menerimanya.
Pelajaran:
Cerita ini mengajarkan pentingnya adaptasi, menghadapi ketakutan, dan mencari solusi baru ketika menghadapi perubahan.
Ketika pikiran dan perasaan tidak sinkron maka perubahan tidak terbentuk. Ketika rasa dan pikiran tidak selaras perubahan tidak akan tercipta.
- Joe Dispenza dalam bukunya yang berjudul Breaking the Habit of Being Yourself mengatakan perubahan membutuhkan koherensi keselarasan pikiran dan perasaan. Kalau selama ini hanya fokus pada pikiran tidak diikuti pada rasa hasilnya nihil. Begitu juga sebaliknya rasa diutamakan namun tidak diikuti dengan pikiran hasilnya gagal berubah.
Intisari
Perubahan itu pasti. Tidak ada yang tidak berubah dalam hidup ini Kecuali Allah dan perubahan itu sendiri. Tidak berubah itu sama dengan mati.
Untuk membacatopik ini ada di buku Merubah Paradigma membangun etos Kerja