Pikiran Positif
Pikiran positif dapat mengaktifkan hormon endorfin dalam tubuh kita. Hormon endorfin adalah hormon bahagia. Pekerjaan yang dilakukan dengan pikiran positif membuat sesorang tidak mudah bosan, fokus bekerja, menikmati pekerjaan.
Dalam buku berjudul Kopassus, dikisahkan proses pembaretan para prajurit yang harus menjalani long march dengan jarak yang mencapai ratusan kilometer.
Pembaretan di Kopassus adalah tradisi dimana prajurit yang berhasil menyelesaikan rangkaian pendidikan komando berhak menggunakan baret merah sebagai simbol sebagai bagian dari pasukan khusus. Jadi tidak mudah prosesnya untuk menggunakan baret merah. Pendidikan komando terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu tahap basis, gunung-hutan, rawa, laut, dan long march. Seluruh rangkaian ini berlangsung selama beberapa bulan. Momen pembaretan dilaksanakan di lokasi tertentu, salah satunya di Pantai Parmisan, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
Apa yang membuat prajurit tersebut tetap bersemangat dalam perjalanan yang tidak mudah. Panas, hujan, lapar, dingin menjadi tantangan yang harus dilewati. Namun para prajurit itu bisa melangkah tahapan hingga finis. Penulis menemukan jawabannya. Jawabnya adalah selama mereka long march prajurit terus aktif melakukan yel-yel, bernyayi bersama. Dengan cara yang sederhana itu prajurit merasa bahagia karena tanpa mereka sadari hormon endorfin mereka lepaskan. Pekerjaan berat ketika diikuti dengan pelepasan hormon endorfin terasa ringan.
Pembaretan merupakan simbol diterimanya seorang prajurit ke dalam kultur Kopassus, sebagai tanda kesiapan untuk menerima nilai-nilai dan tantangan yang melekat di dalamnya. Setelah proses pembaretan, seorang prajurit diharapkan mampu mencerminkan nilai moral, profesionalisme, serta mental yang kuat.
Pada lomba pacu jalur di Pekanbaru, Kabupaten Kuantan Singingi, ada seorang bocah yang berdiri di bagian paling depan perahu. Bocah ini disebut sebagai anak coki yang memiliki peran penting dalam menjaga ritme dan memberi semangat kepada para pendayung.
Dalam lomba perahu naga, ada pemukul beduk atau drum yang berfungsi memberikan semangat tim. Tanpa kehadiran anak coki yang menari dan pemukul gendang, semangat anggota tim tidak akan maksimal. Karena hormon endorfin tidak dilepaskan dengan maksimum. Kesannya datar saja. Dengan adanya anak coki dan pemukul gendang ditambah dengan suara supporter yang berteriak, menghasilkan semangat juang yang jauh lebih tinggi.
Pada masa peperangan tempo dulu, saat dua kerajaan berperang di lapangan terbuka, susunan pasukan biasanya diatur secara berlapis. Di barisan terdepan terdapat pasukan pembawa panji dan pasukan kalewang, kemudian diikuti oleh pasukan tombak, pasukan pemanah, pasukan berkuda, serta pasukan gajah.Di barisan belakang, terdapat pasukan penabuh drum yang bertugas membangkitkan semangat juang para prajurit selama perang.
Tuhan yang Maha Kuasa sudah memberi hormon endorfin kepada setiap manusia. Hanya saja tidak diaktifkan. Padahal manfaatnya sangat bagus bagi kesehatan manusia. Hormon endorfin adalah obat bagi manusia. Tidak perlu ke dokter, manusia bisa sembuh dari penyakit fisik dan mental. Bayangkan bagiamana rasanya seorang tentara yang sedang berperang lalu terkena peluru, rasa nyeri yang timbul tentu sangat menyiksa. Untuk mengatasi nyeri akibat luka tembak, biasanya digunakan morfin. Namun, morfin buatan manusia memiliki kelemahan, yaitu dapat menimbulkan ketergantungan. Sedangkan endorfin adalah morfin alami yang diberikan secara gratis kepada manusia. Manfaat hormon endorfin ya sama dengan morfin, yaitu menghilangkan rasa sakit dan nyeri. Oleh karena itu hormon endorfin disebut juga dengan hormon bahagia.
Pikiran Negatif
Sebuah kisah yang menarik. Pada suatu hari ada pekerja A yang terjebak dalam gudang. gudang tersebut memiliki mesin pendingin. Saat pekerja A bermaksud keluar dari gudang, ia gagal karena gudang telah dikunci oleh pekerja B yang mengunci dari luar, karena jam kerja sudah habis dan tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu. Pekerja B menganggap dialah orang terakhir yang berada di pabrik. Karena itu pekerja B buru-buru menutup pintu gudang dari luar dan ingin cepat cepat pulang ke rumah.
Pekerja A yang tidak menyadari bahwa gudang ditutup dari luar menjadi shock. Tak percaya kalau terjebak di ruangan yang memiliki mesin pendingin. Pekerja A lalu berteriak minta tolong bermaksud ada orang yang mendengar. Usaha pekerja A pun menjadi sia-sia.
Dia panik dan ketakutan. Ia membayangkan akan mati kedinginan. Besoknya petugas gudang tiba lalu membuka pintu. Alangkah kagetnya menemukan pekerja A tergeletak kaku sudah meninggal. Meninggal bukan karena kedinginan. Meninggal karena rasa takut berlebihan. Petugas Gudang heran karena waktu meninggalkan area gudang terlebih dahulu mematikan mesin pendingin gudang.
Pesan moral yang didapat di sini adalah pekerja A meninggal disebabkan oleh rasa takut yang berlebihan bukan karena disiksa oleh orang lain. Pekerja A akhirnya meninggal karena pikiran negatifnya.
Kisah kedua terjadi pada masa perang dunia kedua. Ketika ada tiga orang prajurit Jerman yang melakukan pelanggaran. Ketiga prajurit tersebut dimasukkan dalam sel. Petugas sipir lapor komandan. Menanyakan jenis hukuman. Komandan mengatakan jangan kau hukum dengan hukuman fisik seperti menendang, diikat, dipukul, dibenamkan ke air, atau digantung. Lalu petugas sipir menanyakan lebih jauh jenis hukuman yang harus diberikan. Komandan mengatakan hukum mentalnya atau pikirannya.
Petugas sipir diajarkan caranya oleh komandan. Petugas sipir balik ke sel. Menjalankan perintah komandan. Kepada tiga prajurit tadi disampaikan bahwa sel akan ditutup rapat kemudian selang akan dimasukkan dan gas beracun akan dialirkan.
Ketiga prajurit yang mendengar penjelasan itu kemudian menjadi panik, takut berlebihan, dan merasa hidupnya tidak lama lagi. Petugas sipir menjalankan tugas komandan. Semua ruangan dalam kondisi tertutup lalu selang dimasukkan. Esoknya ketika petugas sipir membuka pintu sel menemukan ketiga prajurit tergeletak dan sudah dalam kondisi meninggal.
Petugas sipir heran karena semalam hanya memasukkan selang ke dalam sel tanpa adanya gas beracun sama sekali. Hukuman hanya berupa kata-kata saja bahwa prajurit dihukum dengan gas beracun.
Prajurit mempercayai bahwa memasukkan pipa ke dalam sel artinya akan ada pelepasan gas beracun. Ketakutan luar biasa dan berakhir dengan kematian. Pesan moral yang diperoleh dari kisah ini adalah pikiran lah yang membunuh bukan hukuman fisik.
Kasus bunuh diri yang terjadi di Jembatan Barelang sempat membuat pemerintah setempat kewalahan. Sebagai langkah pencegahan, dipasanglah spanduk peringatan di area jembatan untuk mengimbau masyarakat agar berhati-hati dan menjauhi tindakan bunuh diri, terutama dengan cara terjun ke laut yang memiliki arus sangat deras.
Pada tahun 2024 terdapat 22 kasus bunuh diri di Batam, dan sebagian besar terjadi di Jembatan Barelang. Kerapuhan kesehatan mental, seperti stres dan depresi yang muncul akibat berbagai latar belakang masalah, dapat menjadi pemicu atau trigger bunuh diri. Individu dengan kondisi mental yang rapuh biasanya kesulitan berkembang ketika menghadapi tekanan, sehingga berdampak pada menurunnya produktivitas dalam dunia kerja.
Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023, kesehatan jiwa merupakan hal penting yang perlu dipahami oleh setiap orang. Kesehatan jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam menghadapi dan mengatasi masalah. Seseorang yang mengalami musibah maupun keterpurukan, namun tetap berusaha bangkit dan menyelesaikan masalah yang dihadapi, itulah yang disebut memiliki jiwa dan mental yang sehat. Saat ini, di banyak perusahan, kesehatan jiwa adalah bagian yang penting disosialisaskan kepada para pekerja. Dinas Kesehatan memiliki agenda yang membantu perusahaan dalam melaukan sosialisasi pentingnya memelihara kesehatan jiwa.
Hati-hati memilih pikiran. Pikiran yang negatif membuat sesorang menjadi korban, memiliki system belief yang merugikan (limiting belief), mental blocking, overthinking. Pikiran negatif mengaktifkan hormon kortisol. Hormon kortisol adalah hormon stres. Pikiran menjadi peta kita dalam bertindak. Menjadi GPS kita. Bila kita dalam kondisi pikiran negatif maka tindakan kita pun negatif.
Orang yang memiliki pikiran negatif cenderung memancarkan vibrasi, frekuensi, dan energi yang juga negatif. Ketika berada dalam satu ruangan dengan seseorang yang memiliki energi negatif, vibrasi tersebut dapat memengaruhi suasana sehingga membuat orang lain merasa tidak nyaman berada di dekatnya.
Dalam sebuah buku yang berjudul The Secret of Water yang ditulis oleh DR. Masaro Emoto, ditemukan pola yang memperlihatkan perbedaan kristal air yang dibekukan di balik kaca mikroskop. Dimana kristal air yang diberi kata-kata makian, kebencian akan menunjukkan bentuk yang buruk. Saat didengarkan musik metal, maka bentuknya jadi menakutkan dan buruk. Pun saat kristal es disebutkan nama Hitler maka vibrasinya negatif dan kristal air berubah jadi sangat buruk.
Sebaliknya air yang diucapkan kata-kata yang indah, cinta dan kasih sayang maka kristal air menampilkan wujud kristal air yang sangat indah dan menimbulkan efek yang positif bagi yang melihatnya.
Dalam sebuah eksperimen pada nasi yang baru dimasak, disiapkan dua wadah. Wadah pertama diisi dengan nasi hangat, kemudian pada dindingnya dituliskan kata-kata positif dan pujian yang tulus. Wadah kedua juga diisi dengan nasi yang sama, namun pada dinding luarnya ditempelkan kata-kata negatif serta gambar yang menggambarkan kemarahan dan kebencian. Hasilnya sangat berbeda. Nasi pada wadah yang diberi perhatian positif tetap utuh, tidak berubah warna, dan bebas dari jamur. Sebaliknya, nasi pada wadah yang diberi perlakuan negatif menjadi berair, ditumbuhi jamur, dan akhirnya basi.
Intisari
Pikiran mempengaruhi tubuh. Pikiran positif menghasilkan hormon endorpfin. Hormon endorfin dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Pikiran negatif menghasilkan hormon kortisol atau stress. Pikiran negatif melahirkan perasaan negatif dan memicu terjadinya penyakit.