Persepsi
Saat membahas persepsi, ada nama lain yang punya makna serupa, seperti mindset, kacamata, atau paradigma. Bagaimana terbentuknya persepsi? Yaitu diawali dengan penerimaan pesan dari lingkungan. Pesan, data, dan informasi yang diterima oleh panca indra entah melalui telinga, mata, hidung, maupun kulit disebut sebagai sensasi, yang kemudian diteruskan ke gudang informasi bernama memori. Saat memberi makna terhadap pesan yang tersimpan dalam memori, proses itulah yang disebut persepsi. Gabungan antara sensasi, memori, persepsi pada akhirnya membentuk apa yang kitat kenal sebagai pikiran.
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi mengatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi adalah memberi makna pada situmuli indrawi (sensory stimuli).
Konflik sering terjadi akibat perbedaan persepsi. Adik dan kakak, atasan dan bawahan, maupun suami dan istri kerap terlibat cekcok atau pertengkaran karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda. Tiap orang memiliki makna tersendiri atas simbol simbol, pesan, lambang, dan data berdasarkan stimuli indrawi.
Kisah Kotoran Sapi
Saat saya membawakan pelatihan merubah pardigma dan membangun etos kerja, saya sering menunjukkan gambar kotoran sapi di ruang pelatihan pada slide. Peserta yang biasanya berjumlah dua puluh hingga tiga puluh orang saya minta tanggapannya setelah saya menceritakan kotoran sapi. Begini ilustrasinya.
Saat pagi hari pukul 06:00 seorang tak dikenal menempatkan satu ember besar berisi kotoran sapi. Kotoran sapi itu masih baru, dan diletakkan di depan teras rumah. Orang asing tersebut lalu bergegas pergi.
Tuan rumah yang membuka pintu rumah sangat terkejut karena mendapat kiriman kotoran sapi yang masih hangat. Sambil menutup hidung dan jijik pemilik rumah marah besar karena mendapat kotoran sapi tersebut. Ia merasa direndahkan dan dihina. Karena marah dan tersinggung dengan kiriman kotoran sapi tadi si pemilik rumah mengambil parang bermaksud menghajar sang pengirim.
Si tuan rumah lelah berjalan kaki menelusuri jalan kampung. Mencari sang pelaku. Si tuan rumah bertanya pada orang tentang orang yang melewati rumahnya pada pukul 06:00.
Yang ditanya kemudian menjawab bahwa orang yang melintas melewati rumahnya pada pukul 06:00 salah satunya adalah udin. Si tuan rumah menemui udin dan memarahi udin. Udin pun bingung dan membantah karena udin sejak bangun tidur tetap dirumahnya, tak kemana mana. Berhubung si tuan rumah sudah sangat emosi ia meyerang dengan parang kepada si udin. Si udin bisa menangkis namun tangannya luka dan berdarah.
Tak lama kemudian polisi yang menerima laporan penyerangan tuan rumah ke udin. Si Udin bukan pelaku yang menempatkan kotoran sapi di teras rumah. Si tuan rumah lalu dijebloskan ke dalam penjara karena persepsinya negatif.
Peserta pelatihan umumnya memiliki persepsi negatif dengan kotoran sapi. Responnya adalah merasa direndahkan, dihina, dan jijik. Namun tidak semua peserta pelatihan memiliki respon negatif. Sekitar 10 persen saja yang berpikir positif. Yang punya paradigma positif ini melihat dari kaca mata yang berbeda dengan peserta pelatihan lainnya. Persepsinya ketika diberikan seember kotoran sapi di teras depan rumah justru senang dan bahagia. Bersyukur pada Tuhan yang Maha Esa karena kotoran sapi itu adalah hadiah berupa pupuk kompos yang bernilai tinggi. Tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli pupuk urea di toko. Dengan adanya kotoran sapi yang dikirim orang tak dikenal tersebut membuat tanaman yang diberi pupuk kompos tumbuh dengan subur.
Di kisah ini bisa dipetik pesan moral bahwa kotoran sapi itu tidak punya arti. Kotoran sapi itu netral sejatinya. Manusialah yang memberi arti, makna atau persepsi. Kalau memiliki persepsi negatif maka dia akan menarik pikiran, tindakan, kesadaran, energi dan vibrasi negatif. Sebaliknya kalau seseorang meilihat dari sudut pandang positif maka ia akan memperoleh energi positif, kesadaran, vibrasi, pikiran, dan tindakan positif.
Pikiran dapat diibaratkan seperti algoritma. Ketika seseorang terus memikirkan hal-hal yang negatif, maka tindakan, energi, kesadaran, dan vibrasi yang muncul pun akan ikut menjadi negatif.
Pikiran itu juga menganut hukum servo. Artinya kalau sudah dipikirkan maka hasilnya tak akan melesat meski jaraknya jauh dan berliku akan menemukan target dengan presisi. Artinya pikiran negatif yang dilepaskan tidak meleset, akan menuju pada tindakan negatif, vibrasi negatif, energi negatif, kesadaran negatif. Bukti kalau saat kita berpikiran atau bertindak negatif dapat dilihat pada contoh ini. Saat seorang atasan yang sedang marah memasuki ruang meeting. Maka staf yang ikut meeting merasakan diri yang tidak nyaman, dan pingin cepat-cepat meninggalkan ruang meeting. Hal itu terjadi karena sang atasan menyebarkan vibrasi atau energi negatif. Anda yang berada di area tersebut tidak betah dan kurang nyaman.
Sebaliknya anda selalu mencari keberadaan sang bos yang selalu menyebarkan pikiran positif, tindakan positif, vibrasi positif, dan pikiran positif. Anda kangen dan merindukan kehadirannya. Karena kehadiran atasan yang positif memberikan dampak yang menyenangkan bagi anda.
Ketika berhadapan dengan bos atau atasan yang gemar marah marah anda kena efeknya dan akhirnya anda pun mepaskan hormon kortisol atau stress. Sebaliknya memiliki atasan yang selalau di jalur positif anda akan bahagia dan senang karena anda melepaskan hormon endorfin (bahagia) atau dopamin (senang).
Dalam suatu perjalanan tugas training ke Maluku Utara perusahaan yang bergerak di bidang tambang biji besi. Perusahaan yang masih baru ini sedang merekrut sekitar 200 karyawan. Para rekrutan tidak langsung ditempatkan di bagian produksi, tetapi terlebih dahulu mengikuti proses orientasi yang disertai dengan pelatihan. Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada pembentukan karakter yang dilaksanakan di ruang terbuka. Para peserta langsung dihadapkan pada berbagai tugas kedisiplinan, seperti lari dan push-up. Beberapa peserta yang tidak lagi berusia muda menganggap latihan tersebut tidak perlu lagi dilakukan. Hampir 75% persen peserta menolak untuk mengikuti kegiatan pembentukan karakter yang dilatih oleh instruktur khusus. Lalu tim saya maju meneruskan pembentukan karakter terhadap pekerja yang tersisa 25%. Anehnya peserta yang 25% ini semangat dan bahagia mengikuti rangkaian acara. Salah satu teknik yang dilakukan adalah instruktur yang diturunkan adalah instruktur wanita yang murah senyum. Kegiatannya banyak yel-yel dan menari. Peserta gembira. Rupanya gembira dan bahagia itu menarik peserta lain yang tadinya mogok ikut karakter building. Akhirnya seluruh peserta ikut dan tidak ada lagi yang menolak hadir. Pesan moral yang dapat diambil adalah bahwa dengan menularkan kebahagiaan, setiap aktivitas akan berjalan dengan baik.
Inilah Tipping Point. Kumpulan orang yang bahagia dapat menarik lebih banyak lagi orang lain untuk bergabung bersama melakukan kegiatan.