Sebut namanya Ahmad. usia 45 tahun. Pendidikan Sekolah Menengah Atas. Dipromosikan sebagai Supervisor. keterampilan Ahmad sangat baik. Ahmad dihormati rekan rekan kerjanya. Saat menjadi supervisor Ahmad mengalami kesulitan saat memberi tindakan disiplin ke anak buahnya. Ahmad kesulitan menjalin komunikasi. Ahmad merasa tak enak menegur bahwannya karena dulu saat bekerja sama sama dari bawah dengan rekan rekannya yang sekarang ia pimpin. Ahmad menjadi stress. Ahmad merasa tak pantas menjadi supervisor. Kalau di suruh memeilih memilih jadi anak buah saja.
Kondisi seperti Ahmad banyak penulis temui di lapangan. Kondisi seperti Ahmad yang bagus di bidang skill namun lemah di bidang hubungan antar manusia. Padahal untuk menjadi seorang supervisor keterampilan (skill) bukanlah yang paling utama. Seorang supervisor justru banyak menghabiskan waktu mereka menangani hubungan antar manusia.
Supervisor adalah seorang pemimpin. Supervisor bisa mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan. Supervisor yang gagal memimpin pasukannya dapat menimbulkan efek negatif pada anak buahnya. Seperti adanya penolakan dari bawahan. Tidak mendapat komitmen dari bawahan. Tidak adanya kepercayaan dari bawahan. Tidak adanya motivasi bawahan. Dan beberapa dampak negatif lainnya. Tentunya sebagai seorang supervisor tak menghendaki dampak negatif itu terjadii. Seorang supervisor mengharapkan rencana kerja yang telah di buat dapat dicapai dengan efektif.
Selama penulis memberikan pelatihan kepemimpinan untuk level supervisor sering mendapatkan permasalahan seputar kelemahan komunikasi sang supervisor. Gap yang muncul adalah masih lemahnya para supervisor dalam hal membangun hubungan antar manusia. Sebagian besar supervisor sangat bagus di bidang keterampilan.
Dulu saat awal bekerja. Sang Supervisor adalah lulusan Sekoah Menengah Kejuruan. Mereka piawai dalam keterampilan. Saat bekerja kinerjanya menonjol karena porsi utama yang dikerjakan adalah keterampilan. Atasan memilih mereka jadi leader lalu diangkat sebagai supervisor. Masalah mulai muncul ketika sang supervisor membawahi puluhan anggota. Keterampilan di bidang teknikal tidak lagi satu satunya pegangan. Sang Supervisor harus memiliki kompetensi lainnya seperti kemampuan berkomunikasi, memahami kepribadian orang lain, memahami situasi anak buah, mampu memberikan motivasi, menjalankan delegasi, melakukan couching dan conseling. Sang supervisor juga tidak bisa lepas dari siklus manajemen berupa Perencanaan, pengorganisasian, pengawasan.
Supervisor juga wajib mengikuti perubahan. Kini generasi pekerja dibagi menjadi tiga. Ada generasi Y, generasi Z dan generasi X. Tiap tiap generasi mempunyai pendekatan yang berbeda. Saatnya supervisor berubah.