Hari lingkungan Se-Dunia sepi. Hari lingkungan Dunia kalah dibanding memperingati May Day. Kalah dengan pemberitaan kenaikan BBM, penyaluran BLT, kalah dengan pencarian Panglima Komando Laskar Islam Munarman. Hari lingkungan Se-Dunia di Indonesia khususnya Kepulauan Riau seolah tidak dianggap penting.
Padahal kita tahu bersama, hutan lindung Indonesia terkuras. Para petani sering meradang. Ketika menanam padi selalu gagal panen karena terendam banjir. Warga Jakarta meradang karena terancam banjir rob. Lonsor dan banjir jadi langganan. Saat musin kering kesulitan air bersih.
Perubahan cuaca menyebabkan penyakit aneh bermunculan dan tidak ada obatnya. Species hewan berangsur-angsur punah. Pemanasan global menyebabkan suhu udara meningkat. Hewan kecil di laut tak kuat bertahan hidup. Ketika hewan kecil tersebut hilang, akan mengancam rantai makanan terganggu. Salah satunya adalah mengancam persediaan makanan ikan. Kalau ikan laut kesulitan makanan maka lama kelaman ikan laut akan mati dan pada akhirnya nelayan akan kesulitan menangkap ikan.
Nelayan sulit menangkap ikan membuat ekonomi nelayan makin terhimpit. Kondisi ini diperparah lagi dengan kenaikan harga BBM. Nelayan terpaksa mencampur oli denga minyak tanah untuk kepentingan melaut meski resiko kerusakan mesin terjadi. Ketika sang nelayan berjuang keras melaut dengan modal pas-pasan, ternyata ikan yang diharapkan semakin sulit didapatkan di perairan dangkal karena sudah tercemar atau punah karena pemanasan global. Penderitaan sang nelayan makin berat. Sang nelayan kecil tak sanggup masuk ke laut dalam. Sang nelayan akhirnya banting setir jadi buruh bangunan. Makanya jangan heran harga ikan segar menjadi mahal.
Pada suatu sore penulis sedang menunggu teman di Community Center Kawasan Industi Batamindo Batam, saya suprise karena berjumpa dengan Seorang teman lama yang sudah lima tahun tidak berjumpa. Ia menceritakan pengalaman pahitnya. Ya lima tahun lalu ia memutuskan pulang kampung ke Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan. Tujuan pulang kampung ingin hidup mandiri dengan berwirausaha dan bertani sesuai dengan tabungan yang ia peroleh selama bekerja di salah satu perusahaan di Kawasan Industri Batamindo.
Nyatanya kondisi di daerah lebih sulit. Sang kawan menceritakan kesedihannya saat musim tanam. Selalu gagal panen karena dihantam banjir. Saat musim kering, air hilang di telan bumi. Sang kawan lalu memutuskan jadi tukang ojek. Jadi tukang ojek di kampung halaman ternyata tidak mudah karena kebanyakan orang yang menjadi tukang ojek dibanding penumpang. Sang kawan mengakui bahwa perubahan cuaca membuat kehidupan ekonomi di kampung halaman dia makin berat.
Kini sang kawan memilih bertahan hidup bekerja di Pulau Batam, meski tidak lagi bekerja di perusahaan asing pada perusahaan yang ada di Kawasan Industri Batamindo dan kawasn Industri Lainnya di Batam. Ia merasa pesikis karena usianya sudah memasuki 30-an tahun. Usia seperti itu sulit bekerja diperusahaan manufacturing. Ia bekerja sebagai sales, namun kerinduannya untuk bekerja di perusahaan asing di Kawasan Industri Batamindo tetap besar.
Kisah di atas memperlihatkan hanya setitik dampak dari pemanasan global dari sekian penderitaan manusia di muka bumi in.
Paradigma atau cara pandang warga masyarakat Indonesia yang tidak berubah terhadap lingkungannya. Meski ancaman pemasan global sudah berada di depan hidung tapi masih juga melakukan perbuatan yang tidak ramah lingkungan.
Contohnya, membuang sampah di selokan, menumpuk sampah dan membakar sampah di tempat terbuka, penggunaan listrik dan bahan bakar minyak yang boros.
Kita sadar bahwa karbondioksida yang terbuang ke angkasa akan menyebabkan rumah kaca. Tapi warga negara Indonesia masih berlomba-lomba membeli kendaraan bermotor (khususnya sepeda motor karena hemat BBM). Padahal bisa melakukan penghematan BBM dengan tidak perlu selalu naik kendaraan bermotor kalau bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik sepeda.
Pernah suatu hari penulis berdiri di halaman depan kantor Walikota Batam. Penulis melihat salah seorang pejabat di lingkungan Pemko Batam yang naik mobil dinas ke kantor DPRD Kota Batam, padahal jarak tempuh dari kantor Pemko Batam ke kantor DPRD hanya sekitar seratus meter, namun sang pejabat masih juga naik mobil dinas. Padahal kalau si pejabat tersebut memilih jalan kaki maka ia akan menghemat BBM dan tidak melepas karbon diaoksida dari kendaraan dinas yang ia kendarai. Tindakan yang kelihatan sederhana tersebut tidak hanya ikut menyumbang karbon dioksida dan mengotori udara Batam yang panas tapi juga melukai hati masyarakat.
Ketidakpedulian warga masyarakat Indonesia terhadap lingkungan memang perlu depertanyakan. Contoh sederhana lainnya adalah kebiasaan berbelanja dengan menggunakan tas plastik kresek oleh ibu-ibu. Setiap belanja satu item bahan selalu dibungkus dengan satu kantong plastik. Setiap hari rata-rata setiap rumah tangga di Indonesia membuang lima hingga sepuluh kantong plastik kresek ke tempat sampah. Kalikan sendiri berapa banyak kantong plastik kresek yang dibuang ke tempat sampah.
Sedihnya lagi, sampah plastik tersebut tidak disortir dengan sampah organik (keculai kalau petugas kebersihan kota berbaik hati memisahkan sampah organik dengan non organik). Sampah plastik tersebut terkadang hanya dibakar atau ditanam di tanah. Tindakan membuang sampah plastik di tanah adalah tidak ramah lingkungan, karena plastik butuh waktu lama sebelum hancur diurai oleh microba.
Contoh sederhana lainnya adalah pemakaian tisu. Pemakaian tisu menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari warga IIdonesia. Sehabis makan langsung cari tisu untuk membersihkan mulut dan tangan. Sehabis buang air langsung mengambil tisu untuk membersihkan tangan.
Tisu dipakai untuk membersihkan wajah karena terkena debu. Sadarkah kita kalau selembar tisu yang dipakai berasal dari kayu di hutan. Ketika tisu diproduksi secara massif maka setiap hari akan berkurang jumlah pohon di hutan. Ketika pohon terus ditebang, maka bencana juga akan menghadang.
Peduli pada lingkungan hidup adalah tindakan yang terencana dan penting. Setiap warga di muka bumi ini bertanggungjawab terhadap kelangsungan dan keseimbangan hidup. Mencintai lingkungan adalah sebuah ibadah, mencintai lingkungan berarti ikut mencegah bencana banjir, kekeringan, polusi dan kemiskinan.
Mencinta lingkungan hidup adalah tindakan. Mencintai lingkungan adalah berbuat, berkorban untuk alam. Perbuatan sederhana yang perlu dilakukan bisa dimulai di rumah masing-masing adalah:
- Menggunakan sebuah keranjang belanjaan saat berbelanja di pasar (termasuk di Mall).
- Tidak menggunakan tisu secara berlebihan. Bisa diganti dengan kain.
- Tidak perlu naik kendaraan bermotor ke sebuah tempat kalau jaraknya dekat (bisa dengan berjalan kaki atau naik sepeda)
- Tidak menumpuk sampah di tempat terbuka.
- Tidak menghidupkan lampu saat terang.
Kembali ke judul di atas. Kepedulian warga Indonesia terhadap lingkungan hidup memang rendah. Bukti memperlihatkan pada tanggal 5 Juni 2008 yang merupakan hari Lingkungan Hidup se-dunia, terbukti bahwa minat warga Indonesia terhadap lingkungan masih rendah bahkan tidak dipikirkan.
Justru orang asing lah yang terlhat menyolok memperingati hari bumi se-dunia. Buktinya adalah tindakan turis asing di Bintan Lagoon Resort Lagoi. Para turis asing tersebut, yang seharusny datang ke Lagoi untuk berlibur justru ikut terlibat membantu membersihkan Pantai Lagoi dan melakukan penanaman pohon.
Masalah sampah, saya akui masih susah untuk memisahkan sampah plastik, kertas ataupun yang basah.
Mungkin karena tidak terbiasa
Jadi kadang semua sampah – sampah itu menumpuk dalam satu kantung plastik
:((
Dan konsumsi plastik semakin hari semakin banyak..ampun!!!
Padahal tahu kalau plastik tuh baru bisa diurai oleh tanah dalam jangka waktu 1000 tahun…
Dear Ally thank atas komentarnya. Salam.