Cerita Fiksi
Beno meminta Nenek mencarikan baju terbaiknya. Baju yang paling Beno sukai di simpan Nenek di lemari pakaian. Baju itu bermotif kotak kotak merah. Paling sering baju itu dipakai Beno saat ada kegiatan istimewa atau acara penting . Beno sangat semangat. Ia ingin menyambut Mamanya dengan pakaian terbaik yang ia miliki. Sore itu Beno sibuk meyambut kedatangan Mamanya.
Sudah hampir tujuh tahun Beno di tinggal merantau Mamanya. Kini Beno tersenyum riang. Beno tak sabar memeluk Mamanya. Setiap setengah jam Beno berlari ke depan pintu rumah menunggu kedatangan orang yang sangat dicintainya.
Nenek juga begitu, sangat merindukan kedatangan Sumi. Nenek mempersiapkan penyambutan sederhana. Sejak pagi sudah belanja di warung. Membeli ayam potong, tempe dan bumbu dapur. Memasak makanan kesukaan Sumi. Nenek ingat masakan kegemaran Sumi adalah ayam goreng dan sayur asem. Nenek sangat senang , hatinya serasa disiram air setelah sekian lama gersang. Nenek Atun tak pernah kehilangan kasih sayang terhadap Sumi. Meski sekian tahun pisah dengan anak kesayangannya ia selalu mengharap bisa berkumpul. Dan sebentar lagi harapan itu akan terwujud.
Sepupu Sumi ikut bantu nenek memasak di dapur. Keluarga dekat mendapat kabar kalau Sumi akan pulang kampung. Hari ini adalah hari istimewa buat Nenek dan Beno. Nenek tidak menyambut di Bandara Yogyakarta International Airport. Yogyakarta International Airport jaraknya lebih jauh di banding Bandara Adisucipto. Dulu nenek sering ikut mengantar dan mejemput sanak keluarga di Adisucipto. Nenek belum pernah ke New Kulonprogo Airport. Nenek merasa lebih baik menunggu di rumah saja.
Pesawat Lion Air yang ditumpangi Sumi dan Heru mendarat mulus di Yogyakarta International Airport. Tepat pukul 18.00. Sumi mengucap syukur . Pejalanan udara Batam Jogyakarta di tempuh dalam waktu dua jam. 10 menit sebelum mendarat Pramugari meminta kepada seluruh penumpang agar memasang safety belt, dan merapikan perlengkapan ke tempatnya semula. Pesawat mendarat mulus. Penumpang menurunkan barang bawaan dari kabin. Pramugari lalu membuka pintu pesawat. Penumpang di persilahkan untuk melewati pintu depan. Seluruh Penumpang melalui garbarata atau Aviobridge sebelum sampai ke ruang pengambilan bagasi. Sumi kagum dengan Yogyakarta International Airport. Memiliki banyak fasilitas Aviobridge yang menghubungkan terminal bandara dan pesawat udara. Wah keren, kata hati Sumi.
Yogyakarta International Airport baru di resmikan Presiden Jokowi pada bulan Agustus tahun 2020. Sumi tak menyangka pembangunan bandara baru ini begitu mewah. Ah semoga bisa memberi pertumbuhan ekonomi warga Jogyakarta. Harap Sumi.
Heru yang terbiasa melakukan perjalanan udara juga kagum. Heru dan Sumi menyempatkan selfi bersama dengan latar belakang bangunan bandara yang kokoh.
Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) memiliki banyak keunggulan. Terminal mampu melayani 20 juta penumpang per tahun. Jauh lebih banyak di banding bandara Adisutjipto. Bandara Adisutjipto hanya memiliki kapasitas 1,8 juta penumpang per tahun. Landasan pesawat YIA juga panjang. 3.250 meter. Pesawat besar dan berat seperti Pesawat Airbus A-380, Boeng 747 dan Boeng B-777 bisa mendarat dengan mudah. Luas bandara YIA mencapai 219.000 meter persegi. Bandara ini satu satunya di Indonesia yang mampu menahan gempa hingga 8,8 magnitudo.
Bandara YAI dilengkapi sistem pengamatan gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Alat alat tersebut antara lain pemantau kondisi cuaca seperti AWOS, radar, deteksi Windshear dan deteksi abu vulkanik. . Gedung terminal dan Gudang Pusat Krisis dapat disfungsikan sebagai shelter evakuasi jika terjadi tsunami.
Pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di YAI tanpa transit di Singapura. Pesawat berbadan besar bisa mengangkut 400 hingga 500 orang turis. Bandara ini diharapkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi bagi warga Jogyakarta dan Jawa tengah. Untuk mengakses bandara dapat menggunakan transportasi publik kereta api dari stasiun tugu Jogya dan dapat ditempuh hanya 40 menit. Fasilitas kargo YAI juga memadai.
Sumiatun menunggu koper di ruang pengambilan bagasi. Tiga buah koper dan satu bungkus oleh oleh muncul di hadapan Sumi. Barang penumpang menggunakan conveyor belt yang modern. Barang penumpang mudah dikenali dan tidak tertukar. Heru menyerahkan bukti pengambilan bagasi ke petugas. Langkah kaki Sumi dan Heru menuju ruang taxi agak pelan karena membawa barang bawaan. Tak banyak orang yang melakukan penyambutan. Jumlah penerbangan memang tidak banyak. Masih dibatasi karena adanya kebijakan pengetatan penerbangan untuk mencegah penularan Covit 19. Hanya penumpang yang sehat dan memiliki surat yang dipersyaratkan yang leluasa naik pesawat.
Selain jaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun atau sanitizer, penumpang juga menunjukkan surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR yang sampelnya diambil dalam kurun waktu 3×24 jam sebelum keberangkatan, hasil negatif rapid tes antigen yang sampelnya diambil waktu maksimal 2×24 jam sebeum keberangkatanatau dan hasil negatif tes GeNose C19 dalam kurun waktu 1×24 jam sebelum keberangkatan .
Pemberlakuan kebijakan ini membuat jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan menurun drastis. Sembari melangkah keluar dari ruang pengambilan bagasi. Sumiatun takjub dengan interior bandara YIA. Besar, mewah dan penuh sentuhan seni.
Sumi mengabil karcis antrian taxi bandara yang akan mengantanya ke Kalibawang tanah kelahirannya. Tak lama kemudian taxi bandara mendekat dan mempersilahkan Sumiatun dan Heru masuk mobil. Pak Supir sangat ramah. Grooming ok. Sepanjang perjalanan Sumiatun tak berkedip melihat pemandangan. Infrastruktur Bandara Yogyakarta International Airport membuat Sumiatun kagum, namun setelah melewati areal bandara pembangunan di sepanjang perjalanan tidak banyak berubah. Relatif sama seperti saat Sumi meninggalkan Jogyakarta enam tahun lalu. Heru yang berada di samping Sumi memilih menonton youtube dari layar ponselnya.
Semakin dekat ke Kalibawang, perasaan Sumi semakin tidak tenang. Ia cemas dan bingung bagaimana cara memperkenalkan Heru ke Ibu dan Beno. Sumi sangat takut, kalau berkata jujur akan melukai hati Heru. Dan juga sebaliknya tak mau membuat Beno down kalau memperkenalkan Beno ke Heru sebagai adiknya. Jantung Sumi berdetak kencang. Ia mengalami dilema.
Heru melirik Sumi tidak seperti biasanya. “Ada apa sayang, kok kurang bergairah. “
“Capek ya.” Heru memagang kepala Sumi. Terasa agak hangat.
Heru penuh perhatian. Ia mengambil sebotol air mineral. Meminta Sumi meminam air tersebut agar merasa lebih segar.
Sumi berusaha tersenyum sembari menyambut botol mineral yang disodorkan. Sumi minum hanya beberapa teguk saja. Ia lalu menutup botol mineral tersebut. Mata Sumi melihat pemandangan sawah, pepohonan dan perbukitan yang dilewati. Saat berada di Dekso, Sumi ijin ke supir berhenti sebentar. Sumi mampir ke Tomira membeli freshcare. Tomira adalah singkatan dari Toko Milik Rakyat. Tomira adalah kerjasama Koperasi dan Alfamart. Tomira memprioritaskan produk lokal warga Kulonprogo untuk dipasang di etalase dan rak ritel.
Visi perusahaan Alfamart menjadi jaringan distribusi ritel yang berorientasi pada pemberdayaan pengusaha kecil. Melalui kemitraan, koperasi akan mengadopsi pengetahuan mengelola supply chain, logistik, distribusi, sales, marketing hingga laporan keuangan. Bisa mengelola ritel moderen. Manfaat lain dari Tomira adalah dapat menjual item makanan yang diproduksi UMKM warga sekitar Tomira yang sudah mengikuti standar PIRT ( Pangan Industri Rumah Tangga), Halal MUI, HKI.
Jenis makanan yang banyak di jual adalah keripik belut, keripik pisang, wingko ijo, enting enting kacang, gula semut. Tomira juga melakukan pemberdayaan masyarakat, karyawan Tomira adalah anggota koperasi yang akan mengadopsi kompetensi dari Alfamart. Tomira bisa dikatakan sebagai wadah pelatihan SDM sehingga di masa mendatang mampu mengelola toko secara modern, menguasai teknologi di bidang distribusi. Kemitraan Koperasi dengan Alfamart mirip franchise tapi tidak dikenakan goodwill fee dan royalti fee sehingga koperasi tidak terbebani. Kerjasama ini adalah bentuk keberpihakan pengusaha terhadap pengusaha kecil.
Setelah keluar dari Tomira Sumi kembali ke mobil. Seratus meter dari pasar Dekso kecepatan mobil di kurangi. Ada hajatan. Banyak kendaraan roda dua dan roda empat yang parkir di kiri kanan bahu jalan. Sumi menengok ke arah pesta. Sumi membuka jendela mobil. Meraih handphone lalu mengambil gambar. Sumi senang melaihat pemain jatilan yang sedang menari nari dan diiringi musik tradisional.
*****
Langit sudah mulai gelap. Akhirnya Mobil yang ditumpabi tiba di depan rumah Sumi yang sederhana. Nenek dan Beno sudah berdiri di teras rumah. Sumi membuka pintu mobil. Sumi turun lalu berlari ke arah Beno dan Ibunya. Sumi memeluk hangat Beno dan Ibunya. Heru menurunkan barang barang dibantu Supir. Heru lalu membayar ongkos perjalanan dari bandara hingga Kalibawang. Beberapa lembaran uang seratus ribu ia serahkan ke supir. Sumi menangis haru di pelukan neneknya. Beno pun tak mau lepas dari Sumi. Mereka berpelukan bertiga. Sebuah penantian yang sangat lama. Hari itu ibu, anak dan cucu dipertemuka kembali.
Heru menyaksikan kekasihnya yang meluapkan rasa kangen. Heru makin kagum melihat Sumi memperlakukan Beno seolah seperti anaknya sendiri. Sungguh dewasa dirimu sayang, batin Heru.
Heru bersalaman dengan calon mertuanya. Heru terlihat santun. Heru juga melakukan salam komando dengan Beno. Heru menyerahkan oleh oleh ke Beno. Beno sangat senang dapat mainan dari Heru. Mobil Remote kontrol dan pakaian.
Setelah kurang lebih setengah jam di rumah Sumiatun, Heru pamit menuju wisma. Heru naik ojek pangklan menuju penginapan di dekat Bendungan Ancol . Heru akan istrahat di penginapan yang tak jauh dari rumah Sumi. Ia tak ingin ada fitnah kalau menginap di rumah calon istrinya. Penginapan yang dipilih Heru berada beberapa puluh meter dari Bendungan Ancol. Nama penginapan itu adalah Wisma Lentera Kasih. Tempat ini sering digunakan untuk acara retret, pelatihan team building pemuda dan mahasiswa. Asri. Banyak pohon rindang mengelilingi wisma ini. Cocok untuk istrahat. Lokasinya berjarak tiga ratus meter dari jalan kabupaten. Tenang dan damai. Dari wisma bisa melihat pemandangan Bendungan ancol. Heru bisa istrahat setelah seharian melakukan perjalanan. Waktu di jam tangan menunjukkan pukul delapan malam. Waktu yang pas untuk memulihkan tenaganya setelah perjalan panjang dari Batam Jogyakarta.
****
Malam sudah menunjukkan pukul 21.00 Biasanya Beno dan Nenek sudah istrahat. Beno jarang begadang. Di rumah tidak ada televisi. Kalau mau nonton numpang di rumah tetangga. Malam itu Beno tak mau lepas dari Mamanya. Beno terus nempel seperti perangko. Sumi pun tak henti henti memeluk anaknya. Sumi mengelurkan oleh oleh dari kopor. Ada banyak hadiah yang dibelikan Sumi Buat Beno. Ada baju, celana, sepatu, jam tangan. Beno sangat senang karena barang barang tersebut sudah lama diidam idamkan Beno.
Sumi menyampaikan alasan ia dikawani Heru ke neneknya Beno. Sumiatun sebetulnya bisa pulang sendiri dan tak perlu dikawal Heru, namun Sumi memohon Heru ikut melihat keseriusan Heru melamarnya. Neneknya Beno akhirnya paham mengapa Sumi dikawani seorang lelaki. Nenek senang.
Namun ada yang paling membuat Sumi galau. Sumi belum terbuka ke Beno tentang status Beno di mata Heru . Ada kekuatiran Sumi kalau membuka status dirinya yang sesungguhnya akan di tinggal oleh Heru. Sumi sangat mencintai Heru. Untuk menumbuhkan asa terhadap lelaki tidaklah mudah bagi Sumi. Hampir enam tahun Sumi tidak punya asa terhadap lelaki. Enam tahun lamanya Sumi menutup diri dari pria.
Saat asa hadir. Saat hubungan dengan Heru semakin meningkat serius. Sumi justru galau karena telah berbohong ke Heru.
Sumi lalu meminta Nenek dan Beno untuk ngobrol bersama. Sembari menagis. Sumi menyampaikan latar belakang kenapa ia berbohong ke Heru. Mata Sumi mengelurakan butiran hangat. Sumi memohon ke Beno agar tidak mengaku sebagai anak kepada Heru. Sumi meminta Beno paham kondisinya.
“Maafkan Mama ya sayang.” Kata Sumi
“Tak ada maksud untuk menyakiti perasaan Beno. Ini demi masa depanmu juga Nak.” Lanjut Sumi.
Nenek Atun yang mendengar pengakuan Sumi protes.
“Tidak seharusnya jalan ini kau tempuh Nak. Kenapa harus berbohong. Percuma ibadah lancar, percuma punya harta banyak, percuma punya keluarga utuh kalau di landasi kebohongan. Kebohongan hanya akan melahirkan kebohongan, “ kata Neneknya Beno.
“Berhentilah bersandiwara Nak. Jangan teruskan pernikahanmu kalau belum terbuka sama Heru tentang statusmu. Jangan lagi ada bohong. Kamu akan menyakiti suami dan keluarga besarnya nanti. Saya tidak setuju dengan cara berpikirmu Sumi.” Lanjut Neneknya Beno.
“Saya tak kuat menyampaikannya Bu. Saya takut kehilangan Heru, “ kata Sumi terisak.
Beno pun bereaksi, “Kenapa Mama meminta saya tidak mengaku sebagai anak. Mama jahat.” Beno lalu memalingkan wajahnya dari Sumiatun dan Neneknya. Hatinya terasa tertusuk. Air matanya meleleh. Sekian lama ia menanti pelukan mamanya. Sekian lama bersabar menunggu ternyata malah diminta untuk tidak mengaku sebagai anak.
Air mata Beno meleleh. Beno menepis belaian tangan Sumiatun di kepalanya.
Beno menangis dan tak lama kemudian ia tertidur di samping neneknya.
****
Ayam berkokok. Suara adzan dari masjid. Subuh telah datang. Nenek bangkit dari kasur. Ke kamar mandi mengambil air wudhu, lalu sholat. Sumiatun masih tertidur. Ia mungkin kelelahan setelah perjalanan jauh. Neneknya Beno mebangunkan Sumi agar segera sholat. Usai memasak air, nenek mencari Beno. Kenapa tidak nampak batang hidungnya. Biasanya kalau pagi Beno suka membantu Nenek di dapur. Kemana anak itu?
Nenek mencari Beno ke kamar mandi, lalu ke ruang tamu dan halaman rumah. Beno tidak ada. Kemana anak itu kok tidak kelihatan. Nenek mendatangi kamar Sumi. Sumi baru saja sholat. Sumi melipat rapi mukena.
Nenek bertanya, “Beno semalam tidur di samping saya, tapi tadi pagi saat bangun ia tidak ada di kasur. Aku sudah mencarinya tapi tidak melihatnya. “
Sumi melihat secarik kertas di atas meja. Ada tulisan tangan dan singkat dari Beno. “Mama jahat. Mama tidak mengakui saya sebagai anak. Saya mau cari Bapak. “
Sumi yang membaca tulisan itu langsung shok. “Beno kabur .” Kata Sumi
Pandangan Sumi jadi gelap. Keputusannya meminta Beno tidak mengakuinya demi mendapat Heru memunculkan masalah baru. Sumiatun merasakan tekanan batin yang sangat hebat. Hatinya perih. Sesaat kemudian Sumiatun jatuh pingsan tak sadarkan diri. Nenek jadi panik. Nenek mencoba menyadarkan Sumiatun.
Pukul 8 pagi. Heru datang. Ia menumpang ojek dari wisma. Heru disambut Nenek. Heru diminta segera menemui Sumi. Heru berusaha menyadarkan Sumiatun dari pingsan. Heru mengambil minyak kayu putih Fresh care yang kemarin di beli Sumiatun di Tomira. Perlahan lahan Sumi sadar. Heru bingung kenapa bisa seperti ini. Selama ini kondisi Sumi sangat sehat. Sumi tidak mau berbicara. Ia hanya menangis. Matanya bengkak. Sumi meminta Heru menjauhinya. Sumi ingin menyendiri. Sumi merasa sangat bersalah dan kalut.
Neneknya Beno lalu mengajak Heru ke ruang tamu berbicara berdua. Nenek menunjukkan Foto bayi Beno yang digendong Sumiatun. Neneknya Beno Menceritakan peristiwa yang terjadi. Nenek menjelaskan siapa sebenanrnya Sumi. Nenek menjelaskan kenapa Sumi merantau ke Batam setelah dikecewakan Agus suami Sumiatun. Sumi meninggalkan Beno buah hatinya yang masih balita ketika itu demi bangkit dari tekanan batin. Nenek menganbil nafas lalu menghembuskannya perlahan.
Neneknya Beno membuka kartu Sumi yang sesungguhnya. Beno itu bukan adik kandung yang dianggap seperti anak oleh Sumi. Beno adalah buah hatinya. Anak semata wayang Sumi dari perkawinan dengan Agus pacar Sumi semasa SMA.
Heru mendapat pejelasan seperti itu tersentak kaget. Jadi selama ini Sumitun tidak jujur padaku. Heru membatin. Heru melipat kedua tangannya. Pandangannya mengarah ke lantai.
Tiba tiba Sumi yang mendengar percakapan Neneknya Beno dan Heru bangkit dari kasur. Sumi mendekati Heru. “Maafkan aku ya Bang. Aku yang salah. Selama ini saya ingin mengutarakan secara terbuka tapi takut Abang meninggalkan aku. Aku sangat sayang dan mencintai Abang. Lelaki yang sangat saya dambakan. Yang bisa mengobati luka batin saya. Yang bisa menumbuhkan rasa setelah sekian lama hati saya membeku.”
“Mungkin ini momen yang tepat untuk terbuka. Saya ihklas sekarang. Abang mau meneruskan rencana kita menikah atau meningglakan saya karena membohongi Abang. Saya serahkan keputusan kepada Abang. Saya siap menerima. Tapi saya tak akan mau kehilangan Beno buah hatiku. Maafkan aku sudah berbohong kepada kedua orang tuamu. “
Bersambung