Ditulis oleh M. Rusli
Sejarah Desain Thinking
Design Thinking’ adalah metode pemecahan masalah kreatif. Pertama kali diperkenalkan awal dekade 1980 an. Istilah Design Thinking berasal dari akademisi-akademisi seperti Bryan Lawson dan Nigel Cross yang mengamati bagaimana desainer. Ia amati arsitek memecahkan permasalahan dengan pola pikir yang berbeda dengan para scientist atau engineer.
IDEO, perusahaan konsultan dalam bidang desain produk dan industrial, merupakan perusahaan pertama yang sukses mengadopsikan Design Thinking untuk memecahkan problems dalam konteks bisnis. IDEO fokus pada pelanggan bukan fokus pada desain center. IDEO pantang memberi solusi sebelum mengetahui apa yang diharapkan, dinginkan dan mengetahui masalah pelanggan.
Design thinking kini jadi alternatif dalam problem solving selain QCC , Sx Sigma. Design thinking pertama kali dipopulerkan oleh pendiri IDEO, David Kelley dan Tim Brown. Mereka berdua adalah konsultan desain yang memiliki latar belakang sebagai desain produk berbasis inovasi.
Akhirnya, di awal dekade 2000, mulailah diterbitkan proses-proses Design Thinking yang dibakukan oleh berbagai akademi juga praktisi. IDEO mulai mempopulerkan Design Thinking dengan proses 3-tahapnya, yaitu inspiration, ideating, and implementing.
Stanford University (the d.School) menerbitkan proses 5-tahapnya. Menjadi salah satu rujukan terpopuler yaitu Empathize-Define-Ideate-Prototype-Test.
Di dekade 2010an, Design Thinking mulai menjadi mainstream dan variasi-variasi baru juga terus bermunculan seperti proses 4-tahap yang dikembangkan Prof. Liedtka dari University of Virginia: What is? What if? What wows? What works?
Ada 5 langkah design thinking sesuai pada the d.school.
Emphati. Pelajari kebutuhan, keingin pelanggan. Disini digunakan emphaty map untuk menggali informasi pelanggan.
Define: Nyatakan Masalah pelanggan
Ideate: ciptakan ide.
Prototype: Buat Solusi
- Test: Lakukan pengujian atau pengetesan terhadap prorype yang dibat
- Implementasikan
Tahu kah Anda? ada 80 hingga 90 persen produk yang dilempar ke pasar gagal. Kenapa gagal karena fokus pada Design Centred (Solution Centred) bukan pada Pelanggan Centred.
Kasus Desain sebagai sentral adalah Segway yang membuat produk tanpa mendengarkan apa keinginan pasar atau pelanggan. Produk yang memakan banyak biaya tersbut akhirnya gagal di pasaran.
Produk seperti Segway banyak sekali yang berakhir pada kegagaln produk. Perusahaan seperti ini hanya fokus pada dirinya sendiri. Tak mau mendengarkan atau beremphaty terhadap pelanggan.
Segway tentunya menghabiskan banyak biaya, waktu dan tenaga. Segway terlalu percaya pada dirinya sendiri. Segway fokus pada How atau bagaimana. Segway fokus pada misi namun tidak memiliki visi yang di dasari oleh Why. Seperti yang sudah sudah meski biaya besar, teknologi hebat, uang yang melimpah bukan jaminan sukses karena tidak dilandasi visi.
Perusahaan yang konsepnya seperti Desain Thinking salah satunya adalah perusahaan air mineral bermerek Aqua. Pendirinya tidak langsung membuat produk air kemasan, tapi tumbuh dari sebuah insight setelah melakukan emphaty map (mempelajari apa yang dilihat, dengar, rasakan, apa yang pelanggan lakukan. Setelah itu barulah membuat idea, prototype, testing sampai akhirnya menjadi produk air mineral.
Tirto Utomo sudah menggunakan konsep Desain Thinking jauh sebelum Konsep Desain Thinking di populerkan IDEO dan Universitas Stanford. Aqua di rintis tahun 1970 an.
Tahapan Design Thinking
Design Thinking semakin familiar. Perusaha yang bergerak di bidang jasa cocok dengan metode problem solving ini.
Design Thinking tidak menggunakan banyak tools management. Tidak menggunakan statistical control. Kekuatannya ada pada menggali masalah, keluhan, harapan pelanggan.
Pada generasi milenial banyak karyawan junior yang tidak betah bekerja. Generasi ini hanya bertahan setahun atau dua tahun setelah itu loncat ke perusahaan lain.
Penyebab karyawan milenial tidak betah bekerja di perusahaan karena para karyawan tidak dilibatkan dalam engagement perusahaan. Salah satu cara membangun engage karyawan adalah melibatkan dalam problem solving.
Karyawan yang telah menemukan perusahaan yang bisa memberinya kepuasan akan betah dan bertahan. Karyawan merasa memiliki sebuah visi. Karyawan merasa di perhatikan dan dihargai manajemen.
Agar Karyawan betah maka perlu di perkenalkan dan dibekali skill pemecahan masalah.
Ajak karyawan untuk terlibat dalam memahami masalah pelanggan, entah dengan melakukan riset, observasi, survey, wawancara. Setelah paham tahap pertama Desain Thinking (Emphaty) ajari karyawan paham Define (memahami sebuah masalah). tahap berikutnya ajari karyawan untuk membuat Idea (ide). Langkah selanjutnya buat Prototype dan terkahir lakukan Pengetesan. Setiap tahapan pastikan karyawan selalu melakukan konfirmasi kepada pelanggan agar masalah yang ditangai betul betul akurat