P2SDM Batam sebagai lembaga pelatihan yang fokus dalam pengembangan diri. Di bulan Januari 2023 kembali melaksanakan virtual learning.
Tampil perdana menghadirkan mantan Kepala Devisi P2SDM yakni M. Rusli. Kini Rusli bertugas di Jakarta.
Peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, dari berbagai latar belakang perusahaan; Jasa, Manufacturing, Rumah Sakit, Universitas.
Seminar berjalan lancar. Selama dua jam. Sesi tanya jawab berlangsung di akhir. Salah satu pertanyaan peserta adalah apakah Design Thinking cocok untuk bidang Human Resource?
Design Thinking adalah metode inovasi dalam menyelesaikan masalah yang fokus pada pelanggan.
Design Thinking bisa digunakan di manufacturing, jasa, sekolah, rumah sakit, pemerintah, perusahaan start up, termasuk di bagian Human Resource.
Yang penting digaris bahwahi adalah kapan Design Thinking di gunakan. Bukan membandingkan mana yang lebih bagus dalam penyelesian masalah, apakah menggunakan PDCA/DMAIC (QCC/Six Sigma) atau Design Thinking.
Design Thinking sejatinya tak jauh beda dengan PDCA/DMAIC. Design Thinking menggunakan data kualitatif sedangkan PDCA/DMAIC menggunakan data kuatitaif (Statistical Process Control).
Design Thinking, QCC, Six Sigma, Suggestion Scheme adalah tools penyelesaian masalah. Semua tools di atas sangat mengandalkan data akurat.
Musuh utama tools tersebut adalah asumsi, opini yang tidak di dasari oleh data (latar belakang) akurat.
Baru saja terjadi kasus miris di sebuah wilayah di Papua. Ketika seorang ibu yang di duga (asumsi) oleh warga. Asumsi warga mengatakan bahwa wanita yang ditangkap diduga sebagai pelaku penculikan anak. Warga yang mengepungnya menyiram cairan minyak ke tubuh korban lalu di bakar. Seketika korban terbakar hebat dan meninggal dunia. Setelah di lakukan pengecekan ternyata korban bukan pelaku.
Inilah yang di sebut sebagai ZEBRA atau Zero Evidence But Really Arrogant. inilah pola pikir yang sangat berbahaya bagi tatanan kehidupan. Kondisi seperti ini kian berbahaya. Dapat di lihat dari sosial media bagaimana gencarnya orang orang terkenal dan berpendidikan mematikan karakter orang lain tanpa didasari data akurat. Buzzer tanpa data akurat merajalela maka produktivitas pun makin terpuruk.
Kondisi yang sama juga terjadi pada Pemimpin Tinggi (CEO) di perusahaan, atau Pemimpin Tinggi di pemerintahan yang merasa memiliki percaya diri tinggi dan sudah kenyang pengalaman, saat menghadapi masalah langsung memberi solusi tanpa memahami latar belakang masalah. Type ini disebut HIPPO (Highest Paid Person Opinion). Orang yang di gaji tinggi tapi hanya beropini dan tidak menyelesaikan masalah.
Type HIPPO pun banyak di temukan di lingkunagn kita, mereka malas menggali data (latar belakang) dan nyaman dengan cara lama mereka yang dulu efektif. Cara tersebut digunakan di setiap pendekatan. Mereka tak sadar kalau perubahan terjadi setiap saat. Cara kerja yang dulu efektif hanya dalam hitungan tahun atau bulan sudah tidak relefan lagi.